Senin, 16 September 2013

Semuanya Tanpa Arti

Memperjuangkan apa yang seharusnya tak ku perjuangkan, Mengejar apa yang seharusnya tak ku kejar, Mempertahankan apa yang seharusnya tak ku pertahankan”

Aku tahu kamu bukan untukku, aku tahu aku bukanlah yang kamu kejar, aku tahu itu.., bahkan semuanya. Detik itu juga aku tak kuasa menahan tangis yang selama ini kupendam. Aku terlalu kuat untuk membohongi diriku sendiri, aku terlalu munafik pada perasaan yang ku hindari, aku terlalu lama menahan pedih ini. Selama ini aku bahagia di atas penderitaanku, senang di atas kesedihanku, senyum di atas tajamnya goresanmu, semua demi kamu. Tahukah kamu betapa ku ingin mengatakannya? tapi aku terlalu takut. Aku lihat dirimu lebih bahagia tertawa dengan ‘orang lain’. Membalas pesanku saja kamu sudah malas, kamu cuek untuk melihatnya. Sadarkah kamu? Selama ini aku memperhatikanmu, memberikan perhatian lebih padamu. Tapi kamu tidak pernah merasakannya. Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Kamu mengejar apa yang seharusnya tak kau kejar. Karena itu, kamu tidak pernah merasakan apa yang ku lakukan. Aku bingung, aku seperti orang munafik! Dimulut aku berkata “Ngapain gue suka sama lo?” tapi hati ini meronta-ronta setiap aku mengatakan hal itu. Ya, rasa itu muncul sejak aku bertemu denganmu. Tapi hatiku juga berkata lain. “Kenapa harus dia? Bukankah banyak yang menunggumu? Mereka di depan mata! Kamu salah pilih orang! Tapi kamu juga tidak bisa menghindar bahwa kenyataannya kamu menyukainya, mungkin lebih dari itu juga” Maafkan aku. Aku terlalu munafik untuk ini. Aku telah meperjuangkan apa yang seharusnya tak ku perjuangkan, mengejar apa yang seharusnya tak ku kejar, mempertahankan apa yang seharusnya tak ku pertahankan. Aku terlalu berharap bahwa dirimu seutuhnya untukku. Tapi bayangmu saja tak pernah ku dapat. Pastinya “Aku mengejar apa yang tak pasti, padahal di depanku sudah ada yang pasti”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar