“Memperjuangkan
apa yang seharusnya tak ku perjuangkan, Mengejar apa yang seharusnya
tak ku kejar, Mempertahankan apa yang seharusnya tak ku pertahankan”
Aku
tahu kamu bukan untukku, aku tahu aku bukanlah yang kamu kejar, aku
tahu itu.., bahkan semuanya. Detik itu juga aku tak kuasa menahan
tangis yang selama ini kupendam. Aku terlalu kuat untuk membohongi
diriku sendiri, aku terlalu munafik pada perasaan yang ku hindari,
aku terlalu lama menahan pedih ini. Selama ini aku bahagia di atas
penderitaanku, senang di atas kesedihanku, senyum di atas tajamnya
goresanmu, semua demi kamu. Tahukah kamu betapa ku ingin
mengatakannya? tapi aku terlalu takut. Aku lihat dirimu lebih bahagia
tertawa dengan ‘orang lain’. Membalas pesanku saja kamu sudah
malas, kamu cuek untuk melihatnya. Sadarkah kamu? Selama ini aku
memperhatikanmu, memberikan perhatian lebih padamu. Tapi kamu tidak
pernah merasakannya. Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama
denganku. Kamu mengejar apa yang seharusnya tak kau kejar. Karena
itu, kamu tidak pernah merasakan apa yang ku lakukan. Aku bingung,
aku seperti orang munafik! Dimulut aku berkata “Ngapain gue suka
sama lo?” tapi hati ini meronta-ronta setiap aku mengatakan hal
itu. Ya, rasa itu muncul sejak aku bertemu denganmu. Tapi hatiku juga
berkata lain. “Kenapa harus dia? Bukankah banyak yang menunggumu?
Mereka di depan mata! Kamu salah pilih orang! Tapi kamu juga tidak
bisa menghindar bahwa kenyataannya kamu menyukainya, mungkin lebih
dari itu juga” Maafkan aku. Aku terlalu munafik untuk ini. Aku
telah meperjuangkan apa yang seharusnya tak ku perjuangkan, mengejar
apa yang seharusnya tak ku kejar, mempertahankan apa yang seharusnya
tak ku pertahankan. Aku terlalu berharap bahwa dirimu seutuhnya
untukku. Tapi bayangmu saja tak pernah ku dapat. Pastinya “Aku
mengejar apa yang tak pasti, padahal di depanku sudah ada yang pasti”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar